PNIB Tegaskan Ancaman Khilafah Gaya Baru Sasar Pelajar Lewat Media Sosial
BANYUWANGI, Kompas Jurnal– Organisasi Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) menegaskan bahwa ancaman khilafah, radikalisme, dan terorisme masih sangat nyata dan telah mengadaptasi gaya baru. Penangkapan dua pelajar terduga teroris di Purbalingga dan Lampung menjadi bukti bahwa kelompok seperti HTI kini menjadikan media sosial sebagai alat propaganda utama untuk mencuci otak dan merekrut generasi muda.
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), menyebut media sosial telah berubah menjadi "senjata perang" yang digunakan kelompok radikal untuk melancarkan agenda "menghancurkan" Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari dalam. Ia menilai pola perekrutan melalui algoritma digital jauh lebih berbahaya dan sulit dideteksi dibandingkan cara konvensional.
"HTI dan jaringan khilafah terorisme sengaja membidik pelajar dan mahasiswa karena mereka masih rapuh secara ideologi, labil dalam mencari jati diri, serta sangat aktif di ruang digital," tegas Gus Wal. "Narasi yang mereka sebarkan sengaja dibungkus dengan jargon agama dan jihad semu, padahal isinya adalah racun yang bertujuan menghancurkan NKRI."
PNIB menilai fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. Gus Wal memperingatkan bahwa jika pikiran generasi muda diracuni, yang lahir adalah mesin perusak bangsa. Dunia maya kini menjadi medan pertempuran yang lebih berbahaya, di mana narasi kebencian, hoaks, dan ajakan anarkisme terus diproduksi tanpa henti.
"Ini adalah bentuk kebangkitan khilafah gaya baru, yang menyusup secara halus kemudian menghancurkan kita. Kalau kita sampai lengah, maka Indonesia bisa digiring ke jurang perpecahan dan kehancuran,” urai Gus Wal.
Menghadapi ancaman ini, PNIB menyerukan agar seluruh pihak bergerak bersama. Negara tidak bisa dibiarkan bekerja sendirian melalui Densus 88, BNPT, Polri, dan TNI. Masyarakat sipil, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan wajib bersatu menutup celah propaganda.
Gus Wal mendesak agar ruang digital dibanjiri dengan konten Nasionalisme kebangsaan, nilai Pancasila, Moderasi Beragama, semangat toleransi, dan pesan cinta Tanah Air.
"Pelajar, Pemuda dan mahasiswa jangan sampai hanya menjadi korban. Mereka harus bangkit menjadi agen perubahan dan perlawanan mengatasi Intoleransi Khilafah Anarkisme Radikalisme Terorisme yang kian tumbuh subur," tegasnya.
PNIB mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi Indonesia adalah infiltrasi ideologi dari dalam. "HTI, khilafah, anarko dan terorisme tidak bisa lagi hanya dianggap musuh negara, mereka adalah musuh rakyat. Maka melawan mereka bukan hanya tugas aparat, tapi kewajiban seluruh rakyat Indonesia," pungkas Gus Wal, menyerukan semangat membangun kampung desa berkarakter Pancasila.
(Redaksi/AR Demit)
Editor:Agl
- PNIB Tegaskan Ancaman Khilafah Gaya Baru Sasar Pelajar Lewat Media Sosial
- 0
