MENU

Mobile Apps

Urgent: Liburkan Makan Bergizi Gratis Saat Libur Sekolah, Alihkan Anggaran untuk Korban Bencana

Monday, December 22, 2025, December 22, 2025 WIB Last Updated 2025-12-22T16:32:10Z

 

Rembang  Kompas Jurnal — Indonesia saat ini sedang menjalani sebuah eksperimen besar bernama Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang lahir dari niat baik untuk meningkatkan kualitas gizi generasi bangsa ini patut diapresiasi. Namun, ketika kalender pendidikan memasuki masa libur panjang sekolah, muncul satu pertanyaan sederhana namun sangat mendasar:

Jika sekolah libur, mengapa MBG tidak ikut diliburkan sementara?

Pertanyaan ini bukan soal kemalasan atau penolakan terhadap program negara, melainkan soal akal sehat, efektivitas logistik, dan skala prioritas nasional, terutama ketika negeri ini tengah dilanda duka mendalam akibat bencana di wilayah Sumatera.

Mendistribusikan ribuan bahkan jutaan paket makanan saat siswa tidak berada di sekolah justru menghadirkan persoalan baru yang sulit dijawab secara rasional.

Opsi pertama, siswa diminta datang ke sekolah saat libur. Kenyataannya, berapa banyak anak yang rela meninggalkan masa liburan mereka hanya demi mengambil satu kotak nasi?

Opsi kedua, makanan dikirim langsung ke rumah masing-masing siswa. Masalahnya, siapa yang akan menjadi kurir? Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tentu akan suasananya, kecuali negara menyiapkan tambahan anggaran logistik yang tidak sedikit.

Memaksakan MBG tetap berjalan saat sekolah libur ibarat mengadakan pesta di ruangan kosong—niatnya baik, tetapi kehilangan makna.

Di saat negara sibuk memikirkan bagaimana cara mengirim susu dan telur ke rumah-rumah siswa yang sedang berlibur, saudara-saudara kita di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya hanya sedang memikul beras belasan kilometer di tengah lumpur, berjuang bertahan hidup pascabencana.

Anggaran MBG selama masa libur sekolah sejatinya adalah “tambang emas” sementara yang dapat dialihkan untuk kebutuhan yang jauh lebih mendesak. Bayangkan jika dana tersebut digunakan untuk:
  • Pengadaan helikopter mendistribusikan logistik ke wilayah terlindungi
  • Ribuan unit genset bagi puskesmas darurat yang masih gelap gulata
  • Pembangunan perumahan sementara bagi warga yang rumahnya rata dengan tanah
Bukankah memberi makan bergizi kepada pengungsi yang kelaparan jauh lebih mendesak daripada memberikan paket makanan kepada siswa yang berada di rumah dalam kondisi relatif aman?

Memaksakan program tetap berjalan saat libur sering kali hanya demi menjaga statistik atau sekadar mempertahankan citra “program unggulan tanpa cela”. Padahal, manajemen krisis yang baik adalah manajemen yang tahu kapan harus menekan tombol jeda, demi menyelamatkan kepentingan yang lebih besar dan lebih darurat.

Negara yang bijak tidak akan membiarkan rakyatnya di Sumatera merasa dianaktirikan, sementara dana triliunan rupiah terus mengalir untuk program yang bisa ditunda, dan di sisi lain warga harus mengibarkan bendera putih demi sesuap nasi.

Program Makan Bergizi Gratis adalah niat baik. Namun, niat baik tanpa menimbulkan di tengah bencana berpotensi melahirkan ketidakadilan baru. Liburkan sementara MBG selama masa libur sekolah. Alihkan seluruh daya, anggaran, dan distribusi infrastrukturnya untuk percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana.

Karena pada akhirnya, gizi paling penting yang dibutuhkan bangsa ini hari ini bukan hanya karbohidrat dan protein dalam kotak nasi, melainkan nutrisi empati dari para pengambil kebijakan.

Jangan sampai kita kenyang, sementara saudara kita hilang 

Redaksi: Johan

Editor: Agl

Komentar

Tampilkan

  • Urgent: Liburkan Makan Bergizi Gratis Saat Libur Sekolah, Alihkan Anggaran untuk Korban Bencana
  • 0

Bitcoin